PROLOG…
Buat ank iPPur pasti taw, bbrapa hari lalu, baru ada brita duka dari tmen kita, Feli, yang baru aja kehilangan mamanya. Biarpun gw gak akrab" bgt ama Feli, tp karna gw ketua OSIS gw tetep dateng ngelayat ke rumah duka. Dan sjujurnya gw jg turut berdukacita bgt, apalagi pas tau mamanya dipanggil Tuhan mlalui kebakaran. Mrinding abis kalo ngebayangin gw yang ada di posisi mamanya. Tapi gw tetep doa supaya kluarga mereka, papanya, Feli, adeknya, dll bisa dapet sukacita dari Tuhan dan gw berharap bgt dlm hati mereka masih terus blg "Thanks God for everything". Because their mother would’ve found no tears, no fear and no pain if she had believed in Christ.
Sbenernya puisi ini udh agak lama ada di dalem kumpulan puisi gw. Puisi ini gw tulis klo ga salah abis gw tau soal David" yg di Singapore itu. Tp skrg baru gw publish. Abis kok keknya jaman sekarang, nyawa" mlayang gitu aja ya?
Gw tetep yakin, Ia ngerancangin rancangan" yang mendatangkan kebaikan bukan kecelakaan, buat ngasih kita masa depan yang cerah n penuuuhh harapan.

ESOK HARI
Karya: Josephine M.K.

Saat aku merenung,
Sebuah bayangan merasuk pikiranku
Bagaimana jika esok hari aku tak ada lagi?

Kulihat wanita itu, yang melahirkanku dengan tangisan
Ia pun menangis saat aku terhilang
Kupandangi mereka yang selalu tertawa,
Ceria dalam suka bersamaku,
Menangis sepi dalam kelam
Sementara aku, aku kan ada di sana
Di tempat tinggi dalam sukacita
Tiada tangis tiada pedih

Ketika kesunyian datang,
Sebuah bayangan merasuk pikiranku
Bagaimana jika esok hari, wanita itu tak ada lagi?

Aku memandang diriku sendiri, tengah menangis
Tak tahu harus ke mana dan berbuat apa
Aku kalut, tak berarah
Tak ada lagi omelan itu,
Ceramah menyebalkan yang seringkali menyakitiku
Tak ada lagi lelucon tua
Yang membuat kami tertawa bersama
Ia terbaring kaku, tak bisa memarahiku lagi,
Bahkan untuk sekedar mengelus rambutku ini
Seperti yang ia lakukan setiap hari

Waktu sepi dan kosong,
Sebuah bayangan merasuk pikiranku
Bagaimana jika esok hari, anak itu tak ada lagi?

Anak itu, yang setiap hari berjalan disisiku sambil bercanda tawa,
Kini tak akan berjalan lagi, takkan tertawa lagi
Aku pun mulai menipu bumi,
Tersenyum hampa tak berarti
Sebab tak ada lagi senyum yang sama,
Saat aku bersamanya, bergandengan dan menyambut matahari
Anak itu, yang pernah memegang tanganku dan berkata,
"Kau adalah sahabatku. Senang berteman denganmu, sobat."

Di dalam waktu yang luang,
Sebuah bayangan merasuk pikiranku
Bagaimana jika esok hari mereka semua tak ada lagi?

Sungguh, yang kulihat hanya air mata
Dunia menjadi sepi dan sunyi
Tiada emosi atau rasa
Tiada yang mengomentari kesalahanku,
Tiada yang memarahi kecerobohanku
Tak kudengar lagi tawa saat ku melucu,
Dan tak kulihat lagi wajah marah saat aku menyebalkan
Yang ada hanya air mata dan tubuh-tubuh itu,
Kaku, dingin, tergeletak
Yang tak lagi menyapaku,
Seakan lupa padaku

Namun kutinggalkan semua bayangan itu
Dan aku berdoa,
Mengucap syukur atas setiap jiwa yang menceriakan hariku
Mengucap syukur atas ocehan-ocehan yang membuatku kesal

Jika esok hari mereka masih ada disisiku, Tuhan,
Izinkanku memeluk tubuh mereka
Berterimakasih dan meminta maaf
Agar jika hari kepergian itu sampai,
Aku takkan menangis seperti bayangan itu
Aku kan tersenyum sambil menatap ke surga
Dan melihat mereka melambai dari sana

EPILOG…
Ada prolog, brati ada epilog nich! Ya intinya, sedih itu wajar bgt kalo kehilangan orang yang kita sayang. Jangankan kehilangan, baru nulis ni puisi aje udh nangis bombay gue. Tapi balik lagi, kalo kita sayang brati kita pingin liat dia bahagia, right? Orang yang ninggalin kita itu bahagia kok di sana, malah lebih bahagia dripada kita yang di bumi. Makanya, kalo emang sayang sama seseorang, mumpung orangnya masih di bumi, kenalin dong sama Tuhan kita Yesus, supaya kebahagiaannya terjamin di atas sono (sotoy banget ya kita, emang Kerajaan Surga slalu ada di atas yach?? ga juga padahal lho xD)

Eh bole loh pada doain kluarga Feli juga biar pulih…Hehe…
JLU Fel!